Sabtu, 25 September 2010


TATA CARA PENDAFTARAN MAKANAN DAN MINUMAN untuk industri kecil


kue
Produk pangan yang dikonsumsi bagi masyarakat haruslah aman dari bahan-bahan berbahaya, baik bahaya kimia, bahaya biologis, maupun bahaya fisik. Guna memberikan keamanan pangan bagi konsumen, maka diperlukan sistem pembinaan dan registrasi produk.

Khususnya bagi produsen, untuk mendapatkan Sertifikat Produk Pangan Industri Rumah Tangga (SPP – IRT) beserta persyaratannya dapat dilihat sebagai berikut :
1. Pengajuan Permohonan : Kepada Pemerintah Daerah Cq. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota.
2. Persyaratan :
2.1. Pemilik / Penanggung Jawab Memiliki SIUP / TDI dari Diperindag Memiliki Sertifikat Penyuluhan Keamanan Pangan dari Dinkes & Kabupaten / Kota atau Minimal 1(satu) orang memiliki Sertifikat Penyuluhan Keamanan Pangan (PKP) • Bila tidak memiliki Sertifikat PKP, perusahaan menunjuk tenaga yang sesuai dengan tugasnya mengikuti Pelatihan Penyuluhan Keamanan Pangan.
2.2. Sarana Produksi Sudah diperiksa oleh Dinas Kesehatan kabupaten / kota Laporan hasil pemeriksaan sarana PP IRT dengan hasil minimal Cukup.
2.3. Pangan yang diproduksi Tidak boleh berupa : Susu dan hasil olahannya Daging, ikan, unggas dan hasil olahannya yang memerlukan proses dan atau penyimpanan beku Pangan kaleng berasam rendah (PH> 4,5) Pangan bayi Minuman beralkohol Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) Pangan lain yang wajib memenuhi persyaratan SNI Pangan lain yang ditetapkan oleh Badan POM.
3. Informasi Tentang Nomor Sertifikat PKP. Nomor Sertifikat terdiri dari 3 (tigo) kolom dan 9 (sembiIan) angka, sesuai contoh berikut : 123/4567/89
* Angka ke-1, 2, 3 pada kolom I, menunjukkan nomor urut tenaga Angka ke-4, 5, 6, 7 pada kolom II, menunjukkan propinsi dan kabupaten / kota Angka ke- 8, 9 pada kolom III, menunjukkan tahun penerbitan sertifikat
4. Sertifikat Produksi Pangan IRT (SPP – IRT) Sertifikat diberikan untuk 1 (satu) jenis produk pangan Nomor Sertifikat PP – IRT terdiri dari 12 angka (digit) yaitu: mnm5
* angka ke-1 menunjukkan kode jenis kemasan
* angka ke-2, 3 menunjukkan nomor urut jenis produk
* angka ke-4,5,6.7 menunjukkan kode propinsi dan kabupaten/kota
* angka ke-8, 9 menunjukkan nomor urut produk PP IRTyangtelah memperoleh SPP-IRT
* angka ke-10,11,12 menunjukkan nomor urut PP-IRT di Kabupaten/kota yang bersangkutan Nomor
Pangan Industri Rumah Tangga (P-IRT) dicantumkan pada label produk pangan IRT dengan cara penulisan seperti contoh berikut: P – IRT No. 20634710202
krpKeterangan:
• 2 = jenis kemasan adalah pfastik
• 06 = kelompok jenis pangan yaitu tepung dan hasif olahnya dan jenis produknya adalah biscuit
• 3471 = kode propinsi, kabupaten/kota adalah propinsi DIY, kota Yogyakarta
• 02 = nomor urut jenis pangan yang ke- 2 memperoleh nomor sertifikat produksi
• 025 = nomor urut perusahaan IRT di kabupaten / kota setempat (Yogyakarta)
5. Pencabutan dan Pembatalan SPP-IRT Dicabut dan dibatalkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota apabila : Pemilik atau penanggung jawab perusahaan melakukan pelanggaran terhadap peraturan yang berlaku di bidang pangan Pemilik perusahaan tidak sesuai dengan nama yang tertera pada SPP-IRT Produk pangan terbukti merugikan atau membahayakan kesehatan atau jiwa.
6. Perubahan dan Penambahan Jenis Pangan Perubahan pemilik SPP-IRT dan penanggung jawab perusahaan harus dilaporkan pada Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota Penambahan SPP-IRT dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota berdasarkan: · Permohonan penambahan jenis produk pangan yang dihasilkan oleh IRTyang telah mengikuti penyuluhan · Hasil pemeriksaan sarana produksi IRT oleh Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota minimal Cukup
7. Kode Propinsi, Kabupaten Dan Kota .
8. Kode Jenis Pangan Produk IRT
01 Daging dan hasil olahnya Abon daging, Baso daging, Dendeng babi, Dendeng sapi, Rambak kulit.
02 Ikan dan hasil olahnya Abon ikan, Baso ikan, Cumi kering, Ikan asap, Ikan asin, Kerupuk ikan, Pasta, Ikan, Petis, Terasi, Udang kering.
03 Unggas dan hasil olahnya Abon ayam, Telur asin, Keripik cakar, Ayam bakar.
04 Sayur dan hasil olahnya Acar Asinan sayur, Jamur asin/kering, Sayur asin / kering, sayur kering
05 Kelapa dan hasil olahnya Kelapa parut kering, Olahan air kelapa / nata decoco, Pasta kelapa, Santan
06 Tepung dan hasil olahnya Bihun, Biskuit, Dodol, Jenang, Kerupuk, Kue basah, Kue brem, Kue kering, Makaroni Mie kering, Mie basah, Tapioka, Tepung aren, Tepung beras / ketan, Tepung gandum, Tepung hunkwee, Tepung Kedele, Tepung kelapa, Tepung kentang, Tepung pisang, tepung sagu roti, Sohun, Tahu, Wingko, Geplak.
07 Minyak goreng, Minyak jagung, Minyak kacang, Minyak kedele, Minyak kelapa, Minyak bunga matahari, Minyak Zaitun
08 J em dan jenisnya Jem / Selai, Jeli buah, Marmalad, Serikaya
09 Gula, Madu, Kembang gula Gula aren, Gula kelapa, Gula pasir, Gula semur, Kembang guIa, Kembang gula kare , Madu, Sirop.
10 Coklat,Kopi,Teh Coklat biji / bubuk, Kopi campur, Kopi biji / bubuk, Teh
11 Bumbu Aneka bumbu masak, bawang goreng, Cuka, Kecap asin / manis, Petis, Saos cabe, Saos ikan, Saos kacang, Saos tomat, Tauco, Terasi
12 Rempah rempah Bawang merah kering/pasta/bubuk, Cabe kering / pasta / bubuk, Cengkeh kering / pasta / bubuk, Jahe kering / pasta / bubuk, Jintan, Kayu manis, Kapulaga, Ketumbar, Kunyit kering / pasta / bubuk, Lada putih / hitam, Pala / bunga pala, Wijen
13 Minuman ringan, Jus Jus buah, Minuman beraroma, Minuman buah, Minuman gula asam, Minuman kacang kedelai/Sari kedele, Minuman kopi / campur, Minuman kunyit asam, Minuman lidah buaya, Minuman rumput laut, Minuman sari madu, Minuman teh
14 Buah dan hasil olahannya Asinan buah, Buah kering, Manisan buah, Kurma, Sari buah, Emping pisang.
15 Biji-bijian dan umbi-umbian Beras, Jagung, Ketan, Keripik kentang, Keripik ketela, Keripik singkong, Keripik Sukun, Tape ketan, Kacang, Emping mlinjo, Getuk.
16 Es Es batu, Es jus, Es stik 9.

Kode Jenis Kemasan • 1 Kaca P-IRT/MD • 2 Plastik P-IRT/MD • 3 Karton / kertas P-IRT/MD • 4 Tetrapak Harus MD • 5 Kaleng Harus MD • 6 Alumunium Foil P-IRT/MD • 7 Komposid Harus MD • 8 Ganda P-IRT/MD • 9 Lain-lain P-IRT/MD 10. Industri Rumah Tangga yang sebelumnya memiliki nomor SP untuk produk yang diproduksi, untuk sementara nomor tersebut masih berlaku Contoh : Dep. Kes. RI. SP. No. 382 / 12.03 / 2000

Sumber acuan : Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan Yogyakarta.

INFORMASI TAMBAHAN TENTANG PIRT (dari DINKES kota lain) :
1.      Ketentuan Perijinan : Perijinan ini adalah Perijinan tentang Sertifikasi Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT).
2.      Syarat Permohonan Ijin : Mengikuti Penyuluhan Keamanan Pangan Mengisi formulir permohonan izin PIRT Foto copy KTP, 1 lembar Pas foto 3 x 4, 3 lembar Menyertakan rancangan label Makanan / Minuman
3.      Prosedur Perijinan Mengajukan permohonan untuk mendapatkan Sertifikasi Produksi Pangan Industri Rumah Tangga kepada Kepala Dinas Kesehatan . Akan dilakukan Pemeriksaan berkas (1 hari) Persetujuan Kadinkes (1 hari) Menunggu waktu pelaksanaan penyuluhan keamanan pangan yang dilaksanakan setiap 3 bulan sekali (1 hari s/d 3 bulan) Pemohon diwajibkan mengikuti penyuluhan keamanan pangan dan diperiksa sarana produksinya Mengikuti Acara Penyuluhan Keamanan Pangan (1 hari) Pemeriksaan sarana (1 hari s/d 14 hari) Pemohon membayar retribusi. Sertifikat Pangan Industri Rumah Tangga diserahkan (1 hari) Total waktu 6 hari s/d 3 bulan
4.      Masa Berlaku : tidak ada batas waktu
5.      Pengecualian untuk permohonan tidak dapat dipenuhi apabila pangan yang diproduksi berupa : Susu dan hasil olahannya Daging, ikan, unggas dan hasil olahannya yang memerlukan proses dan atau penyimpanan beku Pangan kaleng Pangan bayi Minuman beralkohol Air minum dalam kemasan (AMDK) Pangan lain yang wajib memenuhi persyaratan SNI Pangan lain yang ditetapkan oleh Badan POM
6.      Sanksi administrasi Melanggar peraturan di bidang pangan Nama pemilik tidak sesuai dengan yang ada di sertifikat Produk tidak aman dan tidak layak dikonsumsi

 Indosweet   

Jumat, 24 September 2010



Wiraswasta: Bagaimana 
dapat sampai disana?

Setelah membahas pilihan sasaran sang wiraswasta, tulisan kali ini melanjutkannya dengan penetapan strategi untuk mencapai sasaran, sebelum seri tulisan ini ditutup dengan bagian ketiga yang membahas kapasitas pelaksanaan.

Banyak bisnis yang dimulai untuk menangkap kesempatan sesaat, tanpa sasaran jangka panjang.  Walaupun demikian, wiraswasta harus mampu mengangkat bisnisnya dari sekedar mengejar sasaran-sasaran taktis ke sasaran-sasaran strategis sehingga mereka dapat memulai membangun kemampuan dan sumberdayanya.


Strategi lebih penting daripada pernik-pernik rekrutmen, sistem kendali, hubungan tanggungjawab, ataupun peran sang wiraswasta pendiri bisnis itu sendiri.  Bisnis dengan strategi baik dapat bertahan ditengah kebingungan kepemimpinan, tetapi kecanggihan sistem kendali ataupun struktur organisasi tidak akan dapat mengatasi strategi yang amburadul.

Strategi yang jelas
Bisnis harus mempunyai arah yang jelas.  Bahkan wiraswasta tunggal dapat  memetik manfaat dari strategi yang terdefinisi dengan baik.  Si wiraswasta dengan keahlian pada industri tertentu sering mempunyai akses khusus daripada para generalis.  Konsultan dengan reputasi pada keahlian tertentu berkecenderungan dapat menetapkan remunerasi yang lebih tinggi.  Sebaliknya, sang generalis, bila dihadapkan pada suatu peluang, harus sadar diri untuk menggandeng para spesialis pada penugasan-penugasan khusus agar selain mampu menuntaskannya pun tidak kehilangan daya saingnya.

Wiraswasta yang ingin membangun bisnis yang langgeng harus memformulasikan strateginya dengan lebih eksplisit.  Strategi ini perlu mengintegrasikan aspirasi sang wiraswasta dengan kebijakan jangka panjang seperti jenis jasa atau produk yang ditawarkan, cakupan geografis yang dilayani, kapasitas teknologi dan pertimbangan-pertimbangan strategis lainnya.  

Strategi harus mampu menggambarkan tujuan kemana bisnis mengarah, bagaimana mencapainya, bukan menekankan dimana bisnis berada.



Strategi yang didefinisikan terlalu luas dapat disamakan dengan ketiadaan strategi sama sekali.  Mendefinisikan bisnis berupa penyedia jasa konsultan, sama saja dengan menjadi konsultan hukum, tetapi tidak membatasi diri menjadi konsultan lindungan lingkungan pertambangan.  Apabila ini yang terjadi, tidak akan ada kredibilitas yang membuat orang tertarik untuk bergabung atau untuk meminta bantuan jasa konsultansi itu.

Bagaimana untung memadai dan tumbuh

Sekali strategi sudah diformulasikan, perlu dievaluasi, apakah bisnis dapat 
memperoleh untung secara memadai dan mampu tumbuh.  Kalau tidak, kita 
harus bertanya dimana sisi keunggulan kita?  Apakah apa yang kita tawarkan 
lebih baik dari pesaing?  Kalau ya, apakah perbedaan tersebut dapat 
dijustifikasikan dengan harga dan keuntungan yang lebih baik, sehingga biaya 
produksi dapat ditutup?  Di bisnis komoditi, apakah biaya kita lebih rendah dari pesaing?  Kalau pertumbuhan tidak mungkin, apakah pasar terlalu kecil?  Ataukah justru skala ekonomi yang memang terlalu kecil?


Di tengah bisnis teknologi yang agak menurun dan gerogotan keuntungan dari pemain-pemain yang lebih kecil, penggabungan Hewlett Packard dengan Compaq merupakan upaya mempertahankan medan persaingan yang masuk akal. Dikombinasikan dengan upaya memperpendek rantai pemasaran, lebih dekat dengan konsumen, HP baru dibawah CEO Carly Fiorina berupaya mempertahankan diri dari serangan Sun dan Dell di pasar server.

Wiraswasta yang terpuruk pada lingkungan bisnis yang tidak menguntungkan atau tidak dapat tumbuh, harus mengambil langkah radikal.  Jasa konsultansi perencanaan dan lingkungan di bidang Kehutanan yang terlalu hiruk pikuk dan campur tangan birokrasi yang terlalu besar pada dekade 80an hingga 90an menghambat pertumbuhan mereka hingga ke level yang tidak sehat lagi.  Munculnya jasa-jasa audit dan konsultansi dalam bidang sertifikasi ekolabel merupakan salah satu upaya radikal untuk mengatasi tekanan birokrasi.  Selain itu, banyak bisnis konsultan yang banting setir ke sektor lain, misalnya pertambangan, dimana margin cukup tinggi, pemain masih sedikit, dan rendahnya campur tangan birokrasi memungkinkan pertumbuhan yang sehat.

Alternatif dari upaya radikal adalah bertahan dengan bisnis yang membusuk tersebut dan berharap akan ada proyek atau order besar yang rasanya sudah mulai muncul dari balik pintu.  Atau ada sinterklas yang akan menyelamatkan bisnis tersebut.  Ini harapan hampa!  Lebih baik tinggalkan bisnis seperti itu.

Masalah kesinambungan
Masalah lanjutan yang harus dihadapi para wiraswasta adalah apakah strategi mereka dapat menunjang bisnisnya dalam jangka panjang.  Masalah kesinambungan ini terutama penting bagi wiraswasta yang muncul bersamaan dengan munculnya suatu teknologi baru, perubahan peraturan atau perubahan-perubahan lain, dimana tercipta suatu keadaan dimana sisi supply tidak dapat memenuhi sisi demand.  Sang wiraswasta mendapat rejeki nomplok karena angin kencang berpihak pada mereka, bukan karena ketiadaan pesaing, tetapi karena mereka berhasil pemain-pemain lama yang ketinggalan jaman.

Keberuntungan atau keunggulan ini, tanpa strategi yang memadai, pada akhirnya akan menghadapi pemain-pemain baru, kejenuhan pasar,  atau perubahan-perubahan baru lagi.  Wiraswasta harus meninggalkan pendekatan ‘me too’nya dan mencari model bisnis baru yang lebih tahan lama, atau berupaya menjual bisnisnya dengan harga yang menarik walaupun ditengah prospek yang menurun.

Contoh menarik adalah apa yang dilakukan pembuat piranti lunak pengolah kata (word processor) Vydec atau WordPerfect yang menghadapi suramnya masa depan software-software mandiri (stand alone).  Vydec dibeli Exxon, sebuah raksasa energi, entah untuk apa, dengan nilai US $ 100juta, sementara WordPerfect dibeli Novell.  Eksistensi kedua pengolah kata ini, pada akhirnya, tidak jelas rimbanya ditengah dunia yang dikuasai kedigdayaan paket software integratif Microsoft Office.  Pola serupa dialami software spreadsheet Lotus 123 yang dibeli IBM.  Bandingkan dengan software Supercalc yang sudah langsung menghilang dari peredaran, tanpa sempat memetik tawaran menarik dari pembeli bergaya „interklas“ itu.

Perlu diakui, strategi keluar yang tepat memang bukan milik siapapun.  Hanya mereka yang berpikiran jauh kedepan yang mempunyai keberuntungan demikian.  Selain itu, memang sulit untuk menghilangkan begitu saja keterikatan sentimental akan kenangan indah masa lalu.

Wiraswastawan yang memulai bisnisnya dengan menciptakan suatu gelombang perubahan sendiri menghadapi tantangan untuk mampu menciptakan strategi-strategi pelanggengan bisnisnya.  Mereka harus mampu menciptakan kekuatan-kekuatan baru pada sisi persaingan berganda.  IBM yang mengawali bisnisnya dengan menciptakan komputer-komputer raksasa (server) dengan piranti lunak khususnya, kehilangan daya saing dengan munculnya komputer-komputer kecil (personal computers) dengan piranti lunak yang didukung begitu banyak vendor.  Disisi lain, muncul pula pembuat super-server SUN dan Digital dengan produk-produk yang sangat kompetitif.   Selain itu, pc-pun semakin tinggi kemampuannnya.  Menghadapi bisnis model yang kehilangan uapnya itu, Lou Gerstner mendefinisi ulang bisnis IBM menjadi penyedia paket-paket yang menyatukan piranti keras dengan jasa konsultansi bisnis secara cukup berhasil.  Redefinisi bisnis ini memang menghadapi pemain lama Accenture dalam bidang konsultansi yang pasti tidak akan tinggal diam, selain mulai pula ditiru oleh kombinasi HP-Compaq dibawah Carly Fiorina.

Seperti digambarkan diatas, sukses memunculkan peniru-peniru.  Walaupun demikian, tiruan tidak selalu berhasil.  Biasanya, meniru produk lebih mudah daripada meniru sistem dimana didalamnya terdapat kecanggihan proses dan kemampuan.  Suatu bisnis dengan produk-produk menarik, sistem produksi dan logistik yang terintegrasi baik, hubungan baik dengan distributor, pelayanan pelanggan yang membudaya dan terus menerus menelurkan produk inovatif sulit untuk ditiru.

Bayangkan hal ini dengan Starbucks yang mengangkat kopi, dari sekedar komoditi menjadi suatu budaya dan gaya hidup.  Beribu warung kopi, tetapi belum ada yang se-trendy ini.  Perusahaan ini tidak hanya menguasai teknik pengolahan kopi terbaik, tetapi penciptaan rasa-rasa baru dan kesabaran untuk mendidik konsumennya, memunculkan kelanggengan usaha.  Di sektor yang lain, konsultansi lingkungan, pemunculan teknik-teknik geographic information system memunculkan produk-produk baru jasa yang sangat menarik.

Munculnya peniru-peniru memerlukan usaha keras untuk mengangkat teknik ini pada tingkatan penggunaan yang lebih canggih dan lebih mendalam.  Beberapa kelompok konsultan menunjukkan kepeloporannya dengan memberikan pelatihan-pelatihan atau pendidikan yang lebih canggih bagi pengguna (lembaga-lembaga pemerintah dan perusahaan tambang) dengan teknik-teknik baru sehingga peniru-peniru harus terpontang-panting mengejar lebih kencang.

Sasaran yang terlalu konservatif atau terlalu agresif
Setelah mendefinisikan atau mendefisini ulang bisnisnya, sang wiraswasta perlu menentukan apakah rencana-rencana pertumbuhannya sudah tepat.  Setiap bisnis memerlukan laju pertumbuhan yang berbeda, seperti seorang anak yang belajar bersepeda.  Terlalu lambat ataupun terlalu cepat akan membuatnya jatuh.

Di industri retail dimana lokasi yang menarik atau dominansi geografis diperlukan, sang wiraswasta harus bergegas tumbuh untuk tidak terkejar dan dilalap pesaing atau bahkan penirunya.  Di lain pihak, di industri dimana diperlukan keahlian yang sangat terbatas atau dimana pembeli tidak dapat mentolerir kesalahan (produk-produk luks, tugas-tugas kritis), pertumbuhan bisnis tidak dapat diburu-buru, kemampuan menjaga kualitas lebih krusial.  Di industri migas, misalnya, presisi atas kualitas dan tata waktu sangat tinggi.  Bayangkan potensi kerugian akibat keterlambatan penyelesaian suatu proses perijinan, kalau perangkat rig pemboran darat sudah terlanjur disewa dengan biaya US $ 7000 – 9000 per-hari.  Penundaan sulit ditolerir.

Akhirnya, terpulang ke dirinya sendiri, mampukah sang wiraswasta secara pribadi menghadapi seluruh stress dan ketidak-nyamanan yang dituntut oleh pertumbuhan bisnisnya?


Imam Soeseno, direktur di Ernst & Young, dapat dihubungi di imam@infobisnis.net atau imam.soeseno@id.eyi.com.